Indonesia Support Facility (InSuFa) Ver. 26.4.2010

E-mail Cetak PDF



PERNYATAAN MISI

InSuFa didirikan oleh Pelayanan Pembangunan Gereja (EED) di tahun 2003 sebagai kantor pendukung bagi kira kira 30 partner-partner Indonesia untuk membantu mengintensifkan dan mengembangkan kerjasama antara partner dan EED, antara partner dan konsultan, dan juga antar partner-partner Indonesia.

PELAYANAN-PELAYANAN

InSuFa akan membantu untuk mengintensifkan dan mengembangkan kerjasama melalui dua tugas utama:

1.  Dukungan terhadap organisasi partner dan program-program berdasarkan kebutuhan peningkatan kapasitas dari partner mengenai Perencanaan, Monitoring, Evaluasi (PME) dan manajemen keuangan dengan cara:

* Memfasilitasi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan peningkatan kapasitas yang tepat terkait dengan PME dan langkah-langkah selanjutnya (rencana aksi, proses mentoring, perencanaan strategis, dan lain-lain) dan penilaian kapasitas internal dan alat monitoring internal seperti TANGO (Transparansi dan Akuntabilitas LSM);
* Mengenali dan menghubungi konsultan-konsultan dan lembaga-lembaga pelatihan untuk memperoleh tinjauan yang lebih baik tentang konsultan yang ada dan kesempatan untuk pengadaan pelatihan di daerah. Berdasarkan tanggapan balik dan saran-saran dari partner untuk mengembangkan daftar konsultan dan lembaga pelatihan yang memadai yang kemudian daftar ini dibagikan kepada partner secara berkala;
* Memberikan dukungan kepada partner-partner dalam mengenali tantangan/kekurangan serta potensi dan juga konsultan yang kompeten untuk bidang khusus; dan juga mendukung partner untuk merumuskan kerangka acuan (terms of reference) untuk kegiatan konsultasi dan evaluasi;
* Informasi dan orientasi kepada partner tentang prosedur dan persyaratan EED dalam hal-hal ini;
* Menyediakan akses dan memberikan informasi untuk pelatihan dan konsultasi terhadap Hananta Multi Consulting (HMC), sebuah lembaga konsultasi lokal dalam bidang Manajemen Keuangan, Persyaratan EED, Kredit Mikro dan aspek lainnya yang terkait dengan keuangan dan pajak termasuk layanan pre-checking Requests for Transfer of Funds.



2.  Meningkatkan dialog pengembangan antar partner dan antara partner dan EED dengan cara:

* Memfasilitasi pertukaran antara partner dan EED serta antar partner tentang isu utama terpilih serta tantangan yang dihadapi oleh partner-partner di Indonesia melalui beragam kegiatan (seperti: pertukaran pengalaman dan kunjungan, magang, lokakarya, pelatihan, pertemuan jaringan kerja, pengkajian dll.);
* Mendukung dan memfasilitasi dialog dan kegiatan advokasi antara EED dan partner-partnernya mengenai isu-isu yang menjadi tantangan bagi partner-partner di Indonesia dan kontribusi untuk pengembangan kebijakan EED di masa depan di Indonesia. Terkait dengan proses ini InSuFa bekerja sama dengan perwakilan partner yaitu Dewan Koordinator (DK) yang mengkoordinir keempat kelompok sektoral dalam topik Pengembangan Pedesaan; Kesehatan Dasar Masayarakat (termasuk HIV/AIDS); Demokratisasi, HAM & Transformasi Konflik; dan Keadilan Jender;
* Mengembangkan daftar inventaris tentang poin kekuatan partner yang ingin dibagikan kepada partner-partner yang lain dan kebutuhan peningkatan kapasitas yang bisa dipenuhi dengan kekuatan/sumber daya partner lainnya.



InSuFa dibangun sebagai tawaran. Partner memiliki kebebasan untuk menghubungi Fasilitas Pendukung.

InSuFa tidak akan terlibat dalam pemeriksaan proyek maupun dalam dialog antara EED dan partnernya tentang proposal. InSuFa juga tidak akan melakukan pemeriksaan ulang terhadap dokumen-dokumen (penting) yang akan dikirimkan oleh partner kepada EED seperti dokumen  permintaan dana, laporan kegiatan serta laporan keuangan dan lain-lain.










HUBUNGI

Anna Marsiana, Nelda Riskawaty dan Nila Kencana Dewi

Jln. Raya Kapal 20, Mengwi-Badung, Bali, Indonesia,

Email: Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya Tel: 0361-742-1489 HP: 081-8566895, 081-64895751 (Anna), 081-23952334 (Nelda) & 081-79711056 (Nila).
Terakhir Diupdate ( Selasa, 27 April 2010 11:40 )  

Derajat Kesehatan di Papua Mengkhawatirkan

Menteri Kesehatan Meski pemerintah mengaku telah melaksanakan Pembangunan Kesehatan di Papua selama beberapa dasawarsa.Tapi, seluruh indikator derajat kesehatan Papua, yaitu angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka kematian balita, prevalensi gizi buruk, dan prevalensi gizi kurang, masih berada di bawah angka rata-rata nasional.

Mikro Forum

Video Komunitas

You need Flash player 6+ and JavaScript enabled to view this video.
Title: TELUSUR TVOne jumat 18 Nopember 2011 (0:38:01)



FacebookTwitterYoutubeGoogle+

Opini

Lumbung sebagai Alternatif Gerakan Perlawanan Petani

s scaleupaya tidak keliru memahami seperti apa sesungguhnya petani Indonesia, yang paling utama kita mesti melihat kepemilikan dan penguasaan lahan petani Indonesia. Lebih dari 70% petani Indonesia, termasuk di Propinsi Jawa Tengah dicirikan dengan keberadaan petani landless alias hanya memiliki lahan yang sempit bahkan tidak bertanah. Kini,  beberapa kalangan mulai menengok kembali sistem pangan lokal...

Fokus

Dilema Kebebebasan Beragama: Kasus Pembakaran Rumah Ibadah di Sampang Madura

bhinneka Tunggal Ika  menjadi simbol yang dibanggakan masyarakat Indonesia. Perbedaan seharusnya tak pernah jadi masalah. Mempermasalahkan perbedaan di Indonesia sama artinya mempermasalahkan mengapa kita perlu menjadi negara bangsa. Tapi kenyataan berkata lain. Kasus pembakaran tiga rumah pemimpin Syiah..

Jajak Pendapat

Apakah RUU Kerukunan Umat Beragama Bisa Mencegah Radikalisme?

Share/Save/Bookmark