Di perhelatan akbar BioFach 2012, selain Indonesia, banyak negara lain yang juga unjuk gigi. Untuk negara-negara di ASEAN, yang paling menonjol adalah Thailand. Stand mereka kurang lebih 3 kali stand Indonesia dengan 12 co-exhibitors. Yang menarik, mereka juga menjual air kelapa, santan organik dalam kaleng, dan banyak lagi snacks organik.
“Sepertinya tidak ada kesulitan bagi kita untuk membuat snacks sejenis itu. Columbia dan Brazil sudah menjual kelapa sawit organik, padahal tahun lalu belum ada,” kata Sabastian Saragih, Presiden Aliansi Organis Indonesia (AOI) dalam laporan langsung-nya dari BioFach, Nurenberg, Jerman, 16 Februari 2012.
Menurut Bastian, saat ini di Indonesia masih terbatas pada produk mentah atau sedikit sekali produk olahan seperti gula kelapa. Disisi lain pengepakan (packaging) di pasar organik semakin menekankan aspek ekologis dan sosiologis. Jadi bukan asal bagus tetapi juga harus bersahabat dengan alam dan manusia.
Sekarang India sudah memiliki sekitar 1000 jenis produk organik olahan. Thailand kurang lebih 100 jenis. Untuk mewujudkan semua ini, Bastian mengatakan bahwa dukungan pemerintah sangat penting untuk membuat lingkungan kondusif bagi pelaku pertanian organik dalam mengembangkan pertanian organik.
Melihat perkembangan India dan Thailand, Bastian sangat berharap supaya pemerintah Indonesia bisa menjadikan BioFach sebagai salah satu agenda negara. Selanjutnya pemerintah melakukan kajian atau assessment yang lebih mendalam untuk menjawab pertanyaan mengapa Indonesia yang menjadi pemain besar di sektor komoditi konvensional menjadi pemain tidak berarti di sektor pertanian organik di tingkat global.
Meski demikian, peningkatan volume pemasaran produk organik pasti akan terjadi. Tapi sejauh ini baru ada dua pemain yaitu PT. Bloom Agro dan CV. Aliet Green, kata Bastian. “Bayangkan kalau dua tahun lagi kita punya 20 pemasar di BioFach, lalu 100 pemasar pada 2015, volume perdagangan pasti meningkat! Tentu saja pada saat itu sudah ada 5000 pemasar di pasar domestik,” jelas Bastian menambahkan. (ANP/SNY)
Sumber: http://organicindonesia.org/05infodata-news.php?id=336






Dewan HAM PBB akan melakukan Tinjauan Periodik Universal (UPR) kepada seluruh negara anggota PBB di Jenewa Swiss, pada 23 Mei nanti. Dalam UPR yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali itu, beberapa aktivis HAM meminta PBB untuk memmperhatikan secara serius maraknya kasus pelanggaran HAM, khususnya terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini...
Usaha pemerintah untuk mengembangkan pangan lokal melalui Gerakan Sehari Tanpa Nasi memang layak diapresiasi. Namun demikian, menurut praktisi pertanian, poin penting dan paling utama seiring ajakan itu adalah aksi konkrit pemerintah dalam mendorong pengembangan pangan lokal hingga ketersediaannya terjaga dengan harga terjangkau.






Sampai pertemuan ke 25, kami tetap tidak tahu kapan draft Rencana Aksi Nasional Perlindungan Perencanaan Pemberdayaan dan Partisipasi Perempuan di Daerah Konfik (RAN P4DK) akan disahkan. Peserta dialog N-Peace, sebuah jaringan perempuan perdamaian yang digawangi oleh UNDP, terlihat sedikit resah selama pertemuan dua hari di Bali Kuta Resort pada 18-19 April baru-baru ini. Wajar saja...