Di antara dataran rendah dan daerah pegunungan di Kecamatan Namo Rambe, Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara, terletaklah Desa Namo Pinang. Desa yang dilalui Sungai Petani atau Sungai Deli ini berpenduduk rata-rata bersuku Karo, yakni sekitar 97%.
Mata pencaharian penduduk kebanyakan bertani seperti menanam padi, sayur-sayuran, ataupun yang lainnya. Ada juga yang memelihara ikan (kolam) dan sebagian memasak gula dari air pokok aren (ekpola, bahasa karo). Sayangnya, ini semua belum mampu memberikan perubahan bagi taraf hidup masyarakatnya yang rata-rata masih terbelenggu oleh kemiskinan.
Tak heran kalau masyarakat Desa Namo Pinang pun sangat mendambakan bantuan, baik berupa pemikiran, bimbingan, maupun penyuluhan dalam mengerjakan pertanian mereka. Paling tidak, bantuan ini diharapkan dapat merubah cara pikir mereka, termasuk untuk menuju taraf hidup yang lebih layak. Misalnya dengan menyekolahkan anak mereka sampai ke jenjang perguruan tinggi, persis seperti harapan para orang tua di Desa Namo Pinang tadi.
Gayung pun bersambut saat Bitra Indonesia mendirikan Training Center-nya di Sayum Sabah. Tak ayal sebagian masyarakat Namo Pinang mulai melirik dan mempelajari apa sebenarnya kegiatan Training Center Sayum Sabah (TCSS) tersebut. Sejak itu mulailah Bitra Indonesia membimbing dan mendampingi masyarakat Namo Pinang tadi.
Kemudian atas saran Bitra pulalah masyarakat Namo Pinang mendirikan suatu Kelompok Tani. Namanya Kelompok Tani Mawar, yang sudah beranggotakan 56 orang. Hal ini berkat binaan Bitra Indonesia dan juga mulai timbulnya kesadaran masyarakat dalam berorganisasi.
Kini, para petani di Namo Pinang juga mulai menanam coklat (kakao), yang boleh dikatakan masih baru. Melalui sekolah lapang (SL) coklat selama ± 6 bulan, masyarakat yang dengan bimbingan Bitra Indonesia, juga diajarkan bagaimana cara penanggulangan hama coklat, pemangkasan yang benar dan perawatan buah yang baik. Termasuk dalam hal pembuatan berbagai macam pupuk organik serta penempelan atau penyambungan tanaman coklat. Sehingga coklat yang tadinya tak berbuah kini menjadi subur dan hasil panennya pun semakin bagus. Sebelumnya hasil panen coklat masyarakat sangat jauh dari memuaskan.
Pada 21 Juni 2009, Kelompok Tani Mawar juga membentuk sebuah CU (Credit Union) Mawar, yang kini anggotanya 156 orang. Selain simpan pinjam, anggota Kelompok Tani Mawar ini juga melaksanakan kegiatan sosial. Misalnya bila ada anggota mengadakan pesta maka setiap anggota wajib menyumbang Rp.3000,-/anggota. Demikian juga bila ada yang sakit/opname maupun meninggal dunia. Selain mendapat bibit jagung, mereka juga dapat meminjam dari CU mawar sebesar Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah) dengan waktu 20 bulan cicilan dengan bunga hanya 2%.
Akhirnya, para anggota kelompok tani ini pun berharap, semoga Desa Namo Pinang menjadi harum mekar laksana mawar, sesuai namanya Kelompok Tani Mawar dan CU Mawar.
Djendam Depari, Kelompok Tani Mawar, Namo Pinang, Sibolangit. Penulis adalah pensiunan Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhan Batu.
Sumber: http://bitra.or.id/index.php?option=com_content&;view=article&id=426:mekarnya-mawar-di-namo-pinang&catid=35:community-development-&Itemid=79






Dewan HAM PBB akan melakukan Tinjauan Periodik Universal (UPR) kepada seluruh negara anggota PBB di Jenewa Swiss, pada 23 Mei nanti. Dalam UPR yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali itu, beberapa aktivis HAM meminta PBB untuk memmperhatikan secara serius maraknya kasus pelanggaran HAM, khususnya terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini...
Usaha pemerintah untuk mengembangkan pangan lokal melalui Gerakan Sehari Tanpa Nasi memang layak diapresiasi. Namun demikian, menurut praktisi pertanian, poin penting dan paling utama seiring ajakan itu adalah aksi konkrit pemerintah dalam mendorong pengembangan pangan lokal hingga ketersediaannya terjaga dengan harga terjangkau.





Sampai pertemuan ke 25, kami tetap tidak tahu kapan draft Rencana Aksi Nasional Perlindungan Perencanaan Pemberdayaan dan Partisipasi Perempuan di Daerah Konfik (RAN P4DK) akan disahkan. Peserta dialog N-Peace, sebuah jaringan perempuan perdamaian yang digawangi oleh UNDP, terlihat sedikit resah selama pertemuan dua hari di Bali Kuta Resort pada 18-19 April baru-baru ini. Wajar saja...