
“Bila kita mengerti asal-usul, maka kita akan menjaga tindak-tanduk, sikap dan perbuatan, karena kita keturunan dari orang yang punya martabat atau bukan orang sembarangan. Jadi kalau kita tahu asal-usul, maka bisa menjadi rem bagi kita, saat akan melakukan tindakan yang tidak benar.” (Raden Wedana Murtiwandowo, yang biasa dipanggil Romo Murti dari Tepas Darah Dalem Kraton Yogyakarta, institusi penerbit silsilah keluarga.)
Silsilah keluarga lebih dari sekedar mengenal asal usul keluarga. Bagi Desa Wiladeg dan Jenggala, silsilah keluarga adalah medium menebarkan nilai-nilai kerukunan antar umat beragama. Tulisan ini menganalisis dampak mengenal silsilah keluarga pada kondisi kerukunan umat beragama, dengan menggunakan best practice dari Desa Wiladeg, Gunung Kidul, Yogyakarta dan Dusun Dasan Tengak, Desa Jenggala, Lombok Utara.
14 Desember 2011 adalah hari kunjungan saya ke Dusun Dasan Tengak untuk belajar akan pentingnya keluarga sebagai akar kerukunan di masyarakat. Ini desa kedua yang saya kunjungi. Sebelumnya, 16 Maret lalu, saya berkesempatan mengunjungi Desa Wiladeg, Gunung Kidul, terletak 5 km dari Kota Wonosari untuk belajar tentang otonomi desa. Apa yang menarik dari kedua desa yang pernah saya kunjungi tersebut adalah menjadikan keluarga sebagai sumber dari nilai-nilai kerukunan.
Silsilah keluarga dijadikan media untuk mendidik anak-anak agar belajar menghargai yang lebih tua. “Menghargai yang lebih tua” menyiratkan segudang makna yang sangat luas penerjemahannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini bisa menghormati tanpa syarat agama atau ethnik tertentu. Ini juga bisa dimaknai melindungi yang muda (re: lemah), jika tahu bagaimana menghargai yang lebih tua.
Adalah Sukoco, kepala desa Wiladeg, yang menyakini bahwa kerukunan umat beragama, menjadi salah satu elemen yang mendorong otonomi desa. Sukoco berupaya menjaga praktek toleransi yang sudah bagus dihidupi oleh masyarakat Desa Wiladeg dengan menerbitkan tata aturan desa yang mendukung kondisi kerukunan hidup antar umat beragama. Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) pun dibentuk untuk mewadahi komunikasi antar umat beragama, agar senantiasa bisa hidup dibawah nilai budaya rukun agawe sentosa, trah agawe bubrah (hidup rukun membawa ketentraman dan keamanan, sedangkan bertengkar membawa perpecahan). Mekanisme budaya juga didaulat sebagai payung dari perbedaan. Tradisi bersih desa, tradisi Rasulan, dan pembentukan paguyuban trah yang diikuti oleh seluruh warga desa tanpa membedakan agama dan keturunan etnik apapun, dimobilisasi sebagai media pelanggeng kerukunan itu sendiri.
Pada saat yang sama, unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga juga memainkan peran penting dalam menanamkan nilai-nilai unggah ungguh (tata cara menghormati), dengan cara mengenal secara baik siapa saja dalam struktur keluarga inti dan keluarga besar. Tujuan sederhananya adalah agar anak belajar bagaimana menghormati anggota keluarga.
Menurut penduduk desa Wiladeg yang saya temui, dengan memahamkan silsilah keluarga, maka orang tua mengajarkan unggah ungguh, tanggungjawab, dan ketrampilan menempatkan diri dalam struktur keluarga besar. Orang tua dalam hal ini bertanggungjawab mengenalkan satu persatu setiap anggota keluarga baik dari garis keturunan ibu maupun ayah. Di sinilah, anak-anak akan mengetahui identitas setiap anggota keluarga, seperti domisili, jenis pekerjaan, agama, dan termasuk identitas pasangan mereka. Penelusuran lintas agama dan etnik ini akan memperkuat kesadaran kritis mereka untuk menghormati orang lain tanpa syarat agama dan ethnik, tapi berdasar pada kesadaran bahwa “mereka adalah bagian keluarga kita”. “Ketika anak tahu cara menempatkan diri dalam lingkup keluarga, maka mudah bagi mereka menempatkan diri di masyarakat, termasuk membangun toleransi,” ujar Sukoco.
Tradisi mengenal silsilah keluarga juga dilanggengkan di Dusun Dasan Tengak, Desa Jenggala, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, dimana sebagian besar orang tua meyakini bahwa wajib bagi setiap anak untuk mengenal semua anggota keluarga besar mereka. Tujuannya adalah agar mereka tidak “salah tingkah,” sebuah tindakan yang tidak patut dilakukan di masyarakat. Kunjungan singkat saya pada pertengahan bulan Desember, bersama rombongan Oxfam Indonesia, ingin melihat bagaimana masyarakat berbeda agama hidup rukun di dusun yang berpenghuni sekitar 300 kepala keluarga itu. Meski sebagian besar penduduk dusun beragama Islam, namun masyarakat beragama lain seperti Budha dan Hindu sudah bertahun-tahun juga menghuni dusun ini. Budaya Sasak yang menjadi ikatan bersama cukup mampu menjadi peredam ketegangan di antara umat beragama. Ikatan kebersamaan yang kedua dari ikatan keluarga juga secara efektif mampu menjaga kerukunan di desa tersebut.
Suku Sasak mengenal dua tipe keluarga; keluarga inti (kurenan) dan keluarga luas (Sorohan). Dalam adat Sasak, keluarga perlu ditata, karena berdampak langsung pada sistem pewarisan, ketentuan boleh dan tidak boleh dinikahi, interaksi kehidupan bermasyarakat dan bahkan konflik keluarga. Oleh karenanya, mengenal silsilah keluarga dalam tradisi suku sasak akan membantu seseorang untuk secara hati-hati menempatkan diri. Keberhasilan keluarga dalam mensosialisasikan silsilah keluarga, terefleksi ke dalam kehidupan bermasyarakat mereka. Dalam kondisi kesusahan, keluargalah yang pertama kali akan menolong. Kecuali pendatang, hampir semua warga dusun memiliki ikatan kekerabatan satu dengan yang lainnya.
Belajar dari kedua desa di atas, dalam konteks feminisme, belajar tentang silsilah keluarga berarti memberikan informasi yang lebih lengkap tentang garis keturunan ibu dan bapak. Dalam masyarakat patriakis, biasanya garis keturunan ayah yang diutamakan untuk diketahui oleh anak-anak mereka. Sementara garis keturunan ibu dihilangkan, sehingga peran-peran besar perempuan dalam keluarga sering tidak terlihat. Di masyarakat Minangkabau, mengetahui garis keturunan ibu sangat penting untuk kepentingan pewarisan dan mempertegas tanggungjawab.
Mengetahui identitas setiap anggota keluarga melalui silsilah keluarga, juga membiasakan anak-anak mengenal perbedaan sejak dalam lingkup keluarga. Jika anak terbiasa berbeda, maka akan mempermudah anak untuk menerima perbedaan yang lebih kompleks dalam masyarakat. Mungkinkah ringkihnya kondisi kerukunan umat beragama saat ini, dipengaruhi karena minimnya pengalaman hidup dengan yang berbeda dalam keluarga? Ataukah disebabkan karena generasi sekarang sudah tidak mengenal lagi silsilah keluarga? Tampaknya asumsi saya bisa benar. Awal tahun 2010, ketika AMAN Indonesia menyelenggarakan training pembangunan perdamaian dan resolusi konflik di Keluarahan Loji, Bogor, hampir semua peserta hanya mampu mengingat nama-nama keluarga inti mereka. Mungkin karena generasi sekarang sudah tidak diperkenalkan dengan silsilah keluarga. Mungkin juga tidak tahu sumber informasi silsilah keluarga, karena silsilah keluarga besar tidak pernah jadi dokumen penting dalam keluarga.
Jika pengetahuan kekerabatan di keluarga bisa membantu seseorang memperdalam nilai-nilai kerukunan, maka dalam konteks kebangsaan kita yang sedang carut marut karena konflik kekerasan mengatasnamakan agama, penting bagi keluarga untuk kembali menanamkan pentingnya belajar silsilah keluarga. Institusi sekolah juga bisa mendorongkan kurikulum belajar dengan mengenal sistem kekerabatan di berbagai budaya. Sehingga sejak dini anak-anak kita bisa belajar menghormati tanpa syarat agama dan etnik.
Ruby Kholifah, Country Representative AMAN Indoensia






Dewan HAM PBB akan melakukan Tinjauan Periodik Universal (UPR) kepada seluruh negara anggota PBB di Jenewa Swiss, pada 23 Mei nanti. Dalam UPR yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali itu, beberapa aktivis HAM meminta PBB untuk memmperhatikan secara serius maraknya kasus pelanggaran HAM, khususnya terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini...
Usaha pemerintah untuk mengembangkan pangan lokal melalui Gerakan Sehari Tanpa Nasi memang layak diapresiasi. Namun demikian, menurut praktisi pertanian, poin penting dan paling utama seiring ajakan itu adalah aksi konkrit pemerintah dalam mendorong pengembangan pangan lokal hingga ketersediaannya terjaga dengan harga terjangkau.





