
Ketika kita bicara Gender masih banyak orang yang mengatakan “ o…tentang perempuan ya?”, hal ini memperlihatkan bahwa kata gender masih dimaknai sebagai jenis kelamin perempuan. Pemaknaan dan pemikiran seperti inilah yang kemudian membentuk dan membuat orang semakin bias melihat perempuan dan laki-laki. Ditambah lagi banyak produk-produk kebijakan yang tidak berprespektif gender dan tidak mempunyai keberpihakan kepada perempuan, contoh UU Pelayanan Publik, UU Pornografi, UU Perkawinan dll. Hal ini kemudian semakin menguatkan argumentasi-argumentasi atau pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa berbicara gender itu berarti bicara perempuan tidak laki-laki.
Tidak heran kemudian ketika ada diskusi-diskusi tentang isu gender, sebagian peserta yang datang hampir dipastikan adalah perempuan. Ada semacam keengganan, ketidaknyamanan atau “risih” bagi laki-laki jika harus menghadiri diskusi-diskusi yang berbicara tentang gender.
Kenapa? Karena pandangan dan paradigma yang tertanam di benak masyarakat adalah jika laki-laki mempunyai ketertarikan dan mendalami isu-isu gender maka dilihat dan mendapat label sebagai laki-laki yang lemah, laki-laki yang keperempuanan dll. Hal ini saya yakin masih menghantui sebagian besar laki-laki di Indonesia. Banyak laki-laki yang takut nanti dikatakan seperti perempuan atau lemah.
Kemudian kondisi yang berkembang adalah semakin jauhlah sebagian besar kaum laki-laki dari studi-studi gender. Ini justru tidak menguntungkan bagi perjuangan kesetaraan gender itu sendiri, karena paradigma laki-laki yangmasih mendominasi kehidupan ini masih tetap pada posisi yang kuat. Perempuan kemudian harus berjuang untuk dirinya sendiri.
Padahal kalau kita bongkar lagi kata gender tidak hanya bicara perempuan tapi juga laki-laki. Di dalam Inpres No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, dikatakan bahwa gender adalah konsep yang mengacu pda peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuanyang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial budaya masyarakat.
Bias studi gender pada laki-laki terus berkembang tidak hanya di kalangan masyarakat biasa tetapi justru di kalangan aktivis, akademisi dan kuam intelektual lainnya.
Bias gender dalam persepsi dan kognisi lelaki dan perempuan menurut studi Bortner (1979)
Tabel 3 : Bias gender dalam persepsi dan kognisi lelaki dan perempuan menurut studi Bortner (1979)
|
Ciri-ciri |
Bidang kelebihan perempuan |
Bidang kelebihan lelaki |
|
Kemampuan Intelektual |
Kecakapan verbal |
Kemampuan matematis dan ketrampilan special-visual |
|
Kesehatan |
Kesehatan fisik (lebih jarang terserang penyakit, lebih tahan terhadap penyakit sebelum dan sesudah melahirkan) |
Kesehatan mental (lebih sedikit memperlihatkan problem psikologis seperti kecemasan dan rasa rendah diri) |
|
Kemampuan fisik |
Kepekaan jari tangan, suara dengan nada tinggi, nada suara dapat berubah dengan cepat |
Kekuatan dan penguasaan otot, ketepatan penglihatan |
|
Sifat kepribadian |
Ketaatan, ingin tahu terhadap hal social, tergantung empati, tanggung jawab sosial |
Aktif, agresi, sangat ingin tahu tentang peristiwa dan objek yang non-sosial, impulsive dominasi. |
Melihat pendapat Bortner diatas, pandangan seperti itu kemudian yang selalu memposisikan perempuan pada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya domestik seperti keuangan, sekretaris, kesehatan dll. Perempuan dipandang tidak layak ditempatkan pada posisi-posisi yang strategis dan pengambilan keputusan, karena bias-bias yang berkembang diatas. Akibatnya kesenjangan gender terus terjadi.
Kesenjangan gender merupakan kenyataan yang harus dihadapi perempuan di hampir semua belahan dunia dan dapat ditemukan di semua ranah : publik maupun privat, domestik-reproduktif maupun produktif. Dalam organisasi publik dapat dikatakan perempuan berada pada posisi termarjinalkan. Sistem budaya patriarkal yang menanamkan pemahaman bahwa wilayah publik (politik dan dunia kerja) sebagai wilayah laki-laki, biasa dituding sebagai faktor penyebab utama mengapa kiprah perempuan di ranah publik secara umum berada pada posisi subordinat laki-laki. Dilihat dalam teori organisasi (Acker dalam Shafritz, 1997). Acker menyebutkan empat proses dalam organisasi yang didominasi oleh cara pandang laki-laki , yaitu : (1) pembagian kerja berdasar gender,(2) penciptaan simbol dan citra organisasi yang maskulin, (3) interaksi yang ditandai oleh hubungan dominasi dan subordinasi, dan (4) mental kerja yang dibentuk oleh pemahaman akan struktur kerja, kesempatan serta perilaku dan sikap yang bias gender. (Sri Yuliani-Program Studi Administrasi Negara FISIP UNS, “Pengembangan Karier Perempuan di Birokrasi Publik : Tinjauan dari Gender Prespektif”)
Saatnya kini lebih memperluas kembali studi-studi gender terutama di kalangan laki-laki sehingga laki-laki menjadi tidak anti atau risih bicara gender atau bahkan terlibat dalam perjuangan kesetaraan gender. Ada perkembangan baru yang sangat menarik saat ini yaitu tumbuhnya organisasi atau kelompok laki-laki yang mempunyai fokus perhatian pada isu-isu gender dan perempuan dengan menyebut dirinya Kelompok Laki-laki Baru. Semoga ini menajdi awal berkurangnya biasstudi gender di masyarakat terutama pada laki-laki.
Lilis Listyowati, Program Deputy Kalyanamitra






Dewan HAM PBB akan melakukan Tinjauan Periodik Universal (UPR) kepada seluruh negara anggota PBB di Jenewa Swiss, pada 23 Mei nanti. Dalam UPR yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali itu, beberapa aktivis HAM meminta PBB untuk memmperhatikan secara serius maraknya kasus pelanggaran HAM, khususnya terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini...
Usaha pemerintah untuk mengembangkan pangan lokal melalui Gerakan Sehari Tanpa Nasi memang layak diapresiasi. Namun demikian, menurut praktisi pertanian, poin penting dan paling utama seiring ajakan itu adalah aksi konkrit pemerintah dalam mendorong pengembangan pangan lokal hingga ketersediaannya terjaga dengan harga terjangkau.






Sampai pertemuan ke 25, kami tetap tidak tahu kapan draft Rencana Aksi Nasional Perlindungan Perencanaan Pemberdayaan dan Partisipasi Perempuan di Daerah Konfik (RAN P4DK) akan disahkan. Peserta dialog N-Peace, sebuah jaringan perempuan perdamaian yang digawangi oleh UNDP, terlihat sedikit resah selama pertemuan dua hari di Bali Kuta Resort pada 18-19 April baru-baru ini. Wajar saja...