Transformasi Luka Poso, Sudahkah Dilakukan?

E-mail Cetak PDF

Ruby Khalifah

Dalam sebuah perhelatan para pejuang perdamaian Asia di Siem Riep, Kamboja pada 20 Oktober 2010 lalu, Dekha Ibrahim Abdi, seorang perempuan Muslim dari Kenya menuturkan perjalanan hidupnya mengubah kelukaan menjadi pontensi damai. Ada  tiga tahapan yang harus dilaluinya dalam proses perubahan ini. Proses terberat dalam perjalanan hidup Dekha adalah menyadari bahwa dirinya korban. Tahapan selanjutnya adalah memaafkan segala bentuk ketidakadilan yang pernah dirasakannya. Kemudian, proses ditutup dengan merangkul semua pihak baik lawan maupun  kawan untuk secara bersama-sama mengakhiri konflik kekerasan dan mulai membangun kembali masyarakat.

Pidato Dekha saat itu sangat menginspirasi saya untuk menelusuri kembali proses transformasi kelukaan di Poso, Sulawesi Tengah. Sudahkah semua perhatian banyak pihak terhadap konflik kekerasan mengubah kelukaan menjadi energi perdamaian?

Pertengahan bulan Desember 2010, saya melakukan perjalanan lawatan program di Poso, tepatnya di Kelurahan Pamona dan Kelurahan Malei. Di dua daerah ini pula AMAN Indonesia melakukan program reintegrasi paska konflik kekerasan dengan menggerakkan potensi damai perempuan melalui Sekolah Perempuan Perdamaian. Saya berkesempatan untuk berbincang dengan 14 perempuan Muslim dan Kristen yang terlibat dalam program, dan anggota keluarganya.

Ini memberikan kesan mendalam bagi saya untuk menengok perjalanan transformasi di setiap keluarga yang saya rasakan berbeda, unik dan menemukan tantangan yang beragam. Interaksi mendalam ini juga menggugah rasa penasaran saya tentang sejauh mana masyarakat menyadari akar penyebab dari konflik kekerasan masa silam, karena ternyata tingkat pemahaman individu pada kejadian masa lampau cukup menentukan cara hidup masa kini. Dua hal inilah yang akan saya kaji dalam artikel ini.

Dinamika Proses Transformasi
Konflik dan kekerasan telah usai. Semua orang kembali pada peran semula. Para suami kembali berkebun, menangkap ikan di laut, dan menghadiri rapat-rapat penting bicara tentang perbaikan masyarakat. Para istri kembali menyalakan tungku di pagi hari, membuatkan kopi suami, mengurus anak dan membantu memetik buah kakao di kebun. Anakanak kembali sekolah, bermain dan sesekali membantu kerja orang tua di rumah dan kebun. Inilah pemandangan yang lazim di kedua desa yang saya singgahi. Peran gender dikukuhkan kembali.

Desa-desa pengungsian tumbuh subur saat konflik kekerasan, sekarang menjadi desa baru di pinggiran Pamona. Hidup rukun dengan tetangga yang sama keyakinan adalah idaman setiap orang. Mungkin ini naluriah seorang manusia, mencari kesamaan dan menghindari sebisa mungkin perbedaan. Bahkan perbedaan bisa dianggap akan menggelincirkan kita pada pertikaian atau konflik.

Tampaknya pengelompokan kampung berdasarkan asal daerah seperti di Pamona dan berdasarkan agama Kristen dan Muslim di Malei, untuk sementara memberikan kenyamanan pada banyak pihak. Ini dianggap sebagai solusi untuk masyarakat paska konflik. Akan tetapi, jika semua orang merasa nyaman dan aman tinggal dengan tetangga seagama dan sekampung, bagaimana kita belajar tentang praktek perbedaan?

Di sisi lain, ada perubahan yang menggembirakan dari relasi masyarakat bawah (masyarakat muslim dekat pantai) dan atas (masyarakat Kristen dekat bukit) di desa Malei Lage. Pada bulan puasa, pihak masjid menyelenggarakan sebuah acara buka bersama, dengan melibatkan tetangga non muslim untuk terlibat dalam kepanitiaan di Malei Lage. Begitu pula sebaliknya.

Tanggal 7 Desember 2010lalu, Gereja menyelenggarakan acara natal bersama dihadiri Jemaat Kristen di desa-desa tetangga. Banyak perempuan dan laki-laki Muslim terlibat aktif, tanpa canggung sebagai penerima tamunya. Semua orang terlihat sangat menikmati kebersamaan ini.

Akan tetapi, ternyata ini bukanlah satu-satunya indikator yang bisa dipakai untuk menyelami pulihnya komunikasi masyarakat. Masih banyak anggota masyarakat bawah dan atas yang menahan diri “takut” bergabung dalam perayaan besar desa. Mungkin rasa percaya belum pulih. Mungkin juga dasar kepercayaan yang disandarkan pada “kelompok” atau “agama” dipahami berbeda.

Saya berbincang dengan dua orang ibu yang sama-sama kehilangan anggota keluarganya selama konflik. Ibu Sholeha dan Ibu Kristin (keduanya nama samaran), tinggal terpisah dan berkelompok dengan tetangga yang seagama. Rasa kehilangan orang yang dicintai karena peristiwa naas yang terjadi di desanya, menyisakan luka mendalam. Keduanya tidak pernah bisa melupakan kejadian yang merenggut nyawa orang tuanya. Meskipun, keduanya juga tidak ingin membawa luka hati seumur hidup mereka. Bahkan, sampai hari ini mereka masih memendam pertanyaan besar,mengapa bapak saya dikorbankan?

Ibu Kristin merasa upaya membangun kembali komunikasi dengan tetangga pinggir pantai sudah dilakukan dengan cukup keras. Salah satunya dengan bergabung aktif di Sekolah Perdamaian sebagai wujud nyata dirinya ingin membangun kepercayaan kembali. Meski tidak mudah.

Terkadang beberapa permasalahan pun menjadi batu sandungan, seperti konsep halal dan haram dalam Islam. Beberapa muslim menggunakan konsep halal-haram dengan cara menghindari makan dan minum di rumah tetangga Kristen karena kurang percaya bahwa semua alat-alat memasak stiril dari “daging”, sebuah sebutan untuk babi dan anjing. Ini dibuktikan dengan aksi tidak makan kue buatan ibu-ibu dari atas pada saat pertemuan, jika yang mendapatkan giliran menyiapkan konsumsi adalah ibu-ibu dari kampung atas. Belum lagi konsep salaman sesama muhrim dan sesama agama yang juga membuat bu Kristin semakin bingung.

Situasi ini terkadang membuat bu Kristin mempertanyakan keseriusan masyarakat Muslim, apakah kita sungguh-sungguh ingin akur kembali? Bukankah syarat untuk akur adalah kepercayaan? Bagaimana kita akan membangun kepercayaan, jika di hati kita masih ada keraguan?

Di sisi lain, bagi ibu Soleha, kepercayaan akan tumbuh dengan mengenal “isi dapur” dan cara hidup tetangganya. Dengan cara ini, Ibu Sholeha bisa minum dan makan di rumah orang yang berbeda agama tanpa rasa ragu.

Jika soal halal-haram masih tarik ulur, sebaliknya, masalah menghormati kelompok nasrani dalam perayaan natal sangatlah wajar. “Saya mengucapkan natal dan berkunjung ke rumah-rumah tetangga yang nasrani”, ungkap ibu Soleha.Ini dilakukan karena panggilan hati sebagai tetangga agar kerukunan hidup beragama terjaga.

Mengenali akar konflik
Dari dua pengalaman ibu di atas, tampaknya bangunan kepercayaan memiliki beberapa tahapan. Pada tahap tertentu, masyarakat yang saling menghormati terbangun dengan baik, akan tetapi pada tahap lainnya kepercayaan belum benar-benar terbangun dan cenderung rapuh.

Pertanyaannya, pada tahap mana kepercayaan belum terbangun? Penelusuran saya kepada dua orang ibu di atas menemukan kesimpulan sementara bahwa ada proses tahapan tertentu yang belum tuntas, terutama pada tahap “memaafkan” dan “menerima”. Keduanya masih sering teringat-ingat dengan peristiwa meninggalnya orang yang
dicintainya.

Ibu Sholeha bahkan kerap kali melamun di dekat pantai dan hampir setiap saat masih dihantui dengan kejadian kematian bapaknya. Begitu pula Ibu Kristin yang setiap kali ada pertanyaan tentang masalah konflik, maka seluruh ingatannya terfokus pada peristiwa yang mencabut nyawa bapaknya.

Saya merasakan bahwa cara penerimaan mereka ada hubungannya dengan tingkat pemahaman mereka terhadap akar penyebab konflik kekerasan yang pernah terjadi.

Baik Ibu Sholeha dan Kristin memahami bahwa penyebab dari konflik kekerasan di masa lalu adalah masalah beda keyakinan. Mereka sangat yakin bahwa karena “menjadi Muslim” dan “menjadi Kristen” inilah pangkal dari pertikaian kedua kelompok tersebut. Kesimpulan ini didukung oleh fakta bahwa pasukan merah (sebutan untuk kelompok Kristen) yang membumi-hanguskan desa pinggir pantai yang banyak didomisili oleh muslim. Begitu pula, banyak sekali keluarga Kristen harus mengungsi ke tentena dan keluarga muslim mengungsi ke Poso atau Ampana.

Dari tujuan mengungsi saja, bisa diketahui bahwa perbedaan agama sebagai sumber konflik di Poso. Hal ini tentu berbeda dengan hasil analisis para pakar yang menyebutkan bahwa konflik Poso adalah konflik politik, bukan agama. Artinya, kita musti melihat kembali bagaimana transfer pengetahuan sebenarnya tentang akar konflik terjadi di masyarakat. Sudahkah para akademisi yang banyak melakukan kajian mendalam tentang analisis konflik berbagi hasil analisisnya pada masyarakat? Sudahkah pekerja sosial yang siang dan malam melakukan intervensi pemulihan pasca konflik memahami konsekuensi intervensinya? Dan sudahkah pemerintah yang aktif dalam program rekonsiliasi membuka informasi sebenar-benarnya tentang penyebab dari konflik kekerasan?

Jangan-jangan diantara kita belum ada kesepakatan tentang siapa yang harusnya bertanggungjawab pada diseminasi informasi yang ada. Atau jangan-jangan banyak pihak yang merasa bahwa masyarakat tidak penting tahu tentang penyebab dari konflik, karena konflik dianggap sudah berlalu dan masyarakat sudah “damai” kembali. Inilah saatnya kita berinstropeksi dan merefleksikan kerja kita selama ini.

Kini setiap orang berbenah. Menyongsong masa depan yang diidamkan. Damai dan hidup harmoni. Tapi jangan lupa, bahwa prasyarat untuk hidup harmoni adalah kepercayaan penuh pada setiap orang baik yang dianggap kawan atau lawan. Kepercayaan tidak cukup dengan komitment, tapi juga penerimaan total dari setiap orang. Kita tidak butuh setiap orang untuk melupakan peristiwa yang sudah terjadi, tetapi kita butuh setiap orang berani melakukan transformasi kelukaan menjadi kerjasama dengan pondasi kepercayaan yang kuat. Sudah siapkah kita?

Dwi Ruby Kholifah, Country Representative AMAN Indonesia

Sumber: Salam Friday Newsletter, Edisi: I/024-01.11

Terakhir Diupdate ( Jumat, 09 September 2011 11:36 )  

Add comment


PBB Harus Perhatikan Persoalan HAM di Indonesia

pbbDewan HAM PBB akan melakukan Tinjauan Periodik Universal (UPR) kepada seluruh negara anggota PBB di Jenewa Swiss, pada 23 Mei nanti. Dalam UPR yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali itu, beberapa aktivis HAM meminta PBB untuk memmperhatikan secara serius maraknya kasus pelanggaran HAM, khususnya terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini...

no-rice-sehari-tanpa-nasiUsaha pemerintah untuk mengembangkan pangan lokal melalui Gerakan Sehari Tanpa Nasi memang layak diapresiasi. Namun demikian, menurut praktisi pertanian, poin penting dan paling utama seiring ajakan itu adalah aksi konkrit pemerintah dalam mendorong pengembangan pangan lokal hingga ketersediaannya terjaga dengan harga terjangkau.

Video Komunitas

You need Flash player 6+ and JavaScript enabled to view this video.
Title: 10 Tahun ELSAM (0:05:02)


mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter

We have: 107 guests online
Your IP: 38.107.179.241
 , 
Today: Mei 19, 2012

FacebookTwitterGoogleYoutube

Opini

RAN P4DK, Mendamba Sinergi Efektif

foto mbak rubySampai pertemuan ke 25, kami tetap tidak tahu kapan draft Rencana Aksi Nasional Perlindungan Perencanaan Pemberdayaan dan Partisipasi Perempuan di Daerah Konfik (RAN P4DK) akan disahkan. Peserta dialog N-Peace, sebuah jaringan perempuan perdamaian yang digawangi oleh UNDP, terlihat sedikit resah selama pertemuan dua hari di Bali Kuta Resort pada 18-19 April baru-baru ini. Wajar saja...

Fokus

Menjadikan Kesetaraan Gender Sebagai Gerakan Bersama

Perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial-masyarakat tentu saja tidak menjadi suatu masalah. Namun kenyataanya, diskriminasi terhadap perempuan akibat perbedaan gender itu terus terjadi. Ironisnya lagi, pada level gerakan sosial, kesetaraan gender masih dianggap hanya menjadi urusan perempuan. Isu kesetaraan gender...

Jajak Pendapat

Apakah Muatan RUU Kesetaraan Gender Sudah Menjamin Pemenuhan Hak Perempuan?

Share/Save/Bookmark