Laki-laki dalam Pemberdayaan Perempuan: Sebuah Refleksi

E-mail Cetak PDF

images

6.30 WIB di suatu sore 25 Apil 2011, saya bersama Ibu Rohima dan Pak Sirto dalam perjalanan ke Kantor Radio KBR 68H di kawasan Utan Kayu, Rawamangun. Pak Sirto sengaja diajak untuk menemani Ibu Rohima yang mendapatkan undangan sebagai salah satu narasumber talk show on air di radio tersebut. Saya sengaja mengajak beliau, agar Ibu Rohima ada yang menemani pulang selepas acara talk show. Namun, sebenarnya saya ingin mempunyai waktu yang cukup untuk mendengar pengalaman beliau sebagai suami dalam menemani proses perubahan yang ada dalam diri istrinya semenjak aktif di Sekolah Perempuan untuk Perdamaian. Pak Sirto mengaku bahwa perubahan yang paling drastis pada diri istrinya adalah tidak cengeng dan pandai me-manage waktu, sehingga sesibuk apa pun pekerjaan di rumah tetap terselesaikan dengan baik.

Proses Bu Rohima dalam SP juga menghasilkan perubahan yang drastis pada pembagian tugas kerumahtanggaan. Ketika Bu Rohima diundang menjadi narasumber training penguatan organisasi pada kelompok dampingan Trukajaya di Salatiga bersama dengan AMAN Indonesia, misalnya, mau tidak mau Pak Sirto dan anak-anak yang mendukung keberangkatan Bu Rohima harus mengambil tanggungjawab harian sang ibu. Pak Sirto mencuci pakaian. Wuri dan Tia, kedua putrinya, menyetrika baju, membersihkan rumah, dan memasak. “Tapi setelah ibu kembali ke rumah, kami sepakat untuk tidak menyerahkan semua pekerjaan ke ibu. Kami sepakat untuk tetap melanjutkan berbagi pekerjaan rumah, karena saya baru merasakan betapa capeknya melakukan pekerjaan rumah,” ungkap Pak Sirto dengan bangga. Ya, mereka ibarat tim. Tim harus solid jika ingin mencapai cita-cita dan perubahan nasib.

Sepenggal cerita di atas saya bagi buat pembaca sekalian untuk memantapkan para calon laki-laki baru (meminjam istilah Rifka Annisa) yang sekarang sedang bergulat dengan kegamangan mendukung atau tidak mendukung gerakan keadilan gender. Juga untuk memberikan kepastian kepada banyak pihak, bahwa keadilan gender bukanlah “women power over men” (perempuan berkuasa atas laki-laki). Tetapi lebih melihat sebuah relasi kuasa di keluarga dan masyarakat lebih memperhatikan suara dan kepentingan perempuan, laki-laki, dan anak-anak.

Laki-laki dalam Feminisme, Mengapa?
Perbincangan tentang keterlibatan laki-laki dalam pemberdayaan perempuan mungkin terlihat mustahil. Bagaimana mungkin pelaku kekerasan mendukung upaya pemberdayaan perempuan? Saya rasa, saya sepakat dengan klasifikasi yang dibuat oleh Michael Scott Kimmel, seorang sosiolog Amerika dari Universitas New York dan spesialis studi gender yang cukup populer dengan gagasan laki-laki dan feminisme. Kimmel melakukan klasifikasi tentang respon laki-laki pada gerakan feminism dalam tiga kelompok, yaitu menolak feminism, maskulinist (gerakan membela hak-hak laki-laki dan anak-anak laki-laki karena ketidakadilan sosial), dan mendukung feminism.

Dulu feminisme dipahami sebagai gerakan dari, oleh, dan untuk perempuan, karena keberadaan gerakan feminism memang diilhami oleh pengalaman ketidakadilan perempuan sedunia. Meskipun demikian kita melihat beberapa pemikir dan praktisi pembela hak-hak perempuan juga dihiasi sederet nama-nama laki-laki seperti Nicolas de Condorcet, seorang filosof dan ahli matematika Perancis yang mengangkat isu ekonomi liberal dan pendidikan publik untuk perempuan; Jeremy Bentham, seorang filosof Inggris yang terkenal sangat menguasai filosofi hukum yang menginginkan kesetaraan hak-hak perempuan di mata hukum; John Stuart Mill, penulis The Subjection of Women; Michael Kimmel, yang menulis tentang Men and Masculinity. Di Indonesia, kita tidak asing dengan nama-nama seperti Budi Munawarrahman, Mansur Faqih, Gus Dur, Husein Muhammad, Faqihuddin, Syafiq Hasim, dan masih banyak lagi yang mempromosikan atau me-mainstream-kan wacana keadilan gender melalui tulisan maupun aksi.

Mengapa laki-laki penting dilibatkan dalam gerakan feminisme? Pertama, sistem patriaki sangatlah kaku dalam membentuk nilai dan norma bagaimana menjadi perempuan dan laki-laki di keluarga dan masyarakat. Karakteristik femininitas yang dilekatkan pada perempuan dan maskulinitas yang dilekatkan pada laki-laki tidak menyenangkan bagi perempuan dan juga laki-laki. Bahkan cenderung merugikan kedua belah pihak. Laki-laki dikonstruksi untuk bisa keras, tidak cengeng dan mandiri. Namun, realitasnya kita sering menemui fenomena ketergantungan suami pada kejelian si istri dalam menemukan letak kaos kaki, sepatu, dasi, korek api, atau  barang-barang kebutuhan lainnya. Wajib militer telah banyak mengubah laki-laki menjadi robot pembunuh yang tidak punya belas kasihan menghabisi nyawa siapa saja yang dianggap musuh. Konstruksi laki-laki sebagai pencari nafkah juga masalah buat laki-laki, karena harus menguras seluruh waktunya untuk mencari uang, dan sedikit berinteraksi dengan keluarga. Walhasil, anak-anak sering takut dengan bapaknya, tidak dekat, dan cenderung tidak akrab. Sebaliknya dengan perempuan, meskipun menguasai seluruh aset keluarga, namun banyak perempuan terasing dengan wilayah publik yang ditunjukkan oleh simptom-simptom seperti tidak percaya diri, keringat dingin, takut, dan sebagainya. Jika melihat ilustrasi di atas, tentunya kita sepakat bahwa perempuan dan laki-laki harus bekerjasama dalam mengikis budaya patriakis.

Kedua, musuh bersama ketidakadilan gender bukanlah laki-laki, tetapi ketidakadilan yang disebabkan oleh budaya dan struktur yang memposisikan perempuan sebagai makhuk kelas dua. Bagaimana mungkin laki-laki memukul istri yang dinikahinya karena cinta? Ini saatnya membuktikan bahwa laki-laki harus mempertaruhkan jiwanya untuk berjuang mewujudkan keadilan bagi semua, termasuk perempuan. Sebuah keluarga sakinah mawadah warohmah akan tercapai jika perempuan dan laki-laki berkomitmen untuk menerapkan nilai-nilai keadilan dan bersepakat untuk tidak menggunakan kekerasan.

Ketiga, kekerasan bisa terjadi pada laki-laki. Data Menteri Negara Pemberdayan Perempuan dan Anak dalam laporan korban kekerasan pada anak-anak perempuan dan laki-laki dalam catatan triwulan Januari-Maret 2008, mencatat 40 korban laki-laki. Jumlah ini terus meningkat hingga akhir September 2008, yaitu mencapai 69 anak. Apakah laki-laki harus menunggu anak-anak laki-lakinya menjadi korban terlebih dahulu baru kemudian bergerak?

Belum lama, sebuah aliansi Laki-Laki Baru (LLB) yang digagas oleh lima lembaga, yakni Rifka Annis-Yogyakarta, Yayasan Jurnal Perempuan-Jakarta, WCC Cahaya Perempuan-Bengkulu,  Rumah Perempuan-Kupang, WPF Indonesia diluncurkan untuk merespon keseriusan para laki-laki yang mendukung gerakan kesertaraan gender di Indonesia. LLB meneguhkan bahwa keterlibatan laki-laki dalam pemberdayaan perempuan tidak omong doang (omdo). Aliansi ini mengusung tiga prinsip yang harus diadopsi para anggotanya, yaitu berkomitmen pada kesetaraan gender, anti diskriminasi, dan anti kekerasan dalam bentuk apapun. “Saya sering kali disindir oleh ibu-ibu tetangga saya, karena setiap pagi saya selalu cuci piring. Tapi karena sudah menjadi anggota Laki-Laki Baru, jadi saya cuek saja,” ungkap Vester, salah seorang anggota dari NTB. Saya sangat yakin bahwa banyak laki-laki yang ingin terlibat dalam pemberdayaan perempuan. Ayo tunggu apa lagi? Laki-Laki Baru, Harapan Baru.

Dwi Rubiyanti Kholifah, Country Representative AMAN Indonesia

Sumber: http://amanindonesia.org/wacana.html

Terakhir Diupdate ( Rabu, 24 Agustus 2011 02:46 )  

Add comment


PBB Harus Perhatikan Persoalan HAM di Indonesia

pbbDewan HAM PBB akan melakukan Tinjauan Periodik Universal (UPR) kepada seluruh negara anggota PBB di Jenewa Swiss, pada 23 Mei nanti. Dalam UPR yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali itu, beberapa aktivis HAM meminta PBB untuk memmperhatikan secara serius maraknya kasus pelanggaran HAM, khususnya terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini...

no-rice-sehari-tanpa-nasiUsaha pemerintah untuk mengembangkan pangan lokal melalui Gerakan Sehari Tanpa Nasi memang layak diapresiasi. Namun demikian, menurut praktisi pertanian, poin penting dan paling utama seiring ajakan itu adalah aksi konkrit pemerintah dalam mendorong pengembangan pangan lokal hingga ketersediaannya terjaga dengan harga terjangkau.

Video Komunitas

You need Flash player 6+ and JavaScript enabled to view this video.
Title: Kuala Namu: Suara Dari Balik Tembok (Part-1) (0:10:10)


mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter

We have: 100 guests online
Your IP: 38.107.179.242
 , 
Today: Mei 19, 2012

FacebookTwitterGoogleYoutube

Opini

RAN P4DK, Mendamba Sinergi Efektif

foto mbak rubySampai pertemuan ke 25, kami tetap tidak tahu kapan draft Rencana Aksi Nasional Perlindungan Perencanaan Pemberdayaan dan Partisipasi Perempuan di Daerah Konfik (RAN P4DK) akan disahkan. Peserta dialog N-Peace, sebuah jaringan perempuan perdamaian yang digawangi oleh UNDP, terlihat sedikit resah selama pertemuan dua hari di Bali Kuta Resort pada 18-19 April baru-baru ini. Wajar saja...

Fokus

Menjadikan Kesetaraan Gender Sebagai Gerakan Bersama

Perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial-masyarakat tentu saja tidak menjadi suatu masalah. Namun kenyataanya, diskriminasi terhadap perempuan akibat perbedaan gender itu terus terjadi. Ironisnya lagi, pada level gerakan sosial, kesetaraan gender masih dianggap hanya menjadi urusan perempuan. Isu kesetaraan gender...

Jajak Pendapat

Apakah Muatan RUU Kesetaraan Gender Sudah Menjamin Pemenuhan Hak Perempuan?

Share/Save/Bookmark