Sabtu, 28 Januari 2012 pukul 20.00 WIB kami berkumpul dalam rapat RW yang bertempat di Balai RW 01. Yang turut hadir dalam acara tersebut adalah: ketua RW, ketua RT dari 14 RT, perwakilan PKK, perwakilan Juru Pemantau Jentik (Jumantik), anggota SP, perwakilan The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia dan LMK (Lembaga Masyarakat Kelurahan). Acara tersebut mengagendakan tentang cerita hasil kunjungan ke Malakasari (bank sampah) dan pelatihan daur ulang sampah di Karang Taruna kelurahan Pondok Bambu yang saya wakili bersama Bu Ciptaning (perwakilan RW 01).
Rapat diawali dengan sambutan dari Ketua RW 01, H. Sudjarwo. Dalam sambutannya, ia menyampaikan hasil kunjungan kami dari Malakasari, selain juga menyampaikan terima kasih dan rasa bangga kepada kami yang telah mewakili RW 01 dengan baik sehingga menjadi peserta terbaik.
Cerita Pak Djarwo dilanjutkan oleh Bu Ciptaning. Ia menceritakan Malakasari yang kampungnya bersih dari sampah karena warganya sudah mengelola sampah dengan baik. Mereka sudah melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik ditempatkan di bank sampah untuk kemudian dijual dan dijadikan kerajinan tangan.
Suasana semakin menarik ketika saya juga ikut andil untuk menceritakan kegiatan pelatihan pendaurulangan sampah. Dalam pelatihan tersebut, saya dan ibu-ibu yang lain tergolong peserta yang tidak muda lagi dibandingkan peserta lain. Meski begitu, semangat kami tidak setua usia kami. Buktinya kami menjadi peserta yang terbaik, yaitu dengan prestasi peserta yang paling on time dan aktif dalam forum pelatihan tersebut. Apabila ada yang kurang paham, maka kami tidak segan dan enggan untuk bertanya dan memberikan usulan ataupun kritik yang membangun. Kami juga mempresentasikan tentang EM4 yang ternyata hasilnya sangat bagus, tinggal diberi kecap atau ragi agar baunya harum.
Begitulah gambaran cerita saya dan Bu Ciptaning malam itu. Syukurlah peserta yang hadir merespon dengan baik. Mereka juga memberikan saran dan kritik kepada kami yang sangat membangun, sehingga memberi motivasi untuk bisa membuktikan bahwa kami dapat merealisasikan hasil pelatihan pada tindakan nyata. Hal ini juga bisa menghapus kekhawatiran banyak orang yang meragukan kegiatan sejumlah lembaga pemberdayaan perempuan yang dinilainya hanya bisa memberikan teori saja.
Kami merasa sangat senang terlibat dalam rembug RW ini. Selain dapat menyuarakan kepentingan perempuan, forum tersebut adalah media untuk mengasah pengetahuan yang kami dapat di Sekolah Perempuan, misalnya mengenai materi presentasi efektif sehingga orang lain bisa terpengaruh untuk melakukan ide yang kami berikan.
Rohimah, Ketua Sekolah Perempuan Pondok Bambu
Sumber:http://amanindonesia.org/sekolah-perempuan/branch/sekolah-perempuan-pondok-bambu.html






Dewan HAM PBB akan melakukan Tinjauan Periodik Universal (UPR) kepada seluruh negara anggota PBB di Jenewa Swiss, pada 23 Mei nanti. Dalam UPR yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali itu, beberapa aktivis HAM meminta PBB untuk memmperhatikan secara serius maraknya kasus pelanggaran HAM, khususnya terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini...
Usaha pemerintah untuk mengembangkan pangan lokal melalui Gerakan Sehari Tanpa Nasi memang layak diapresiasi. Namun demikian, menurut praktisi pertanian, poin penting dan paling utama seiring ajakan itu adalah aksi konkrit pemerintah dalam mendorong pengembangan pangan lokal hingga ketersediaannya terjaga dengan harga terjangkau.




Sampai pertemuan ke 25, kami tetap tidak tahu kapan draft Rencana Aksi Nasional Perlindungan Perencanaan Pemberdayaan dan Partisipasi Perempuan di Daerah Konfik (RAN P4DK) akan disahkan. Peserta dialog N-Peace, sebuah jaringan perempuan perdamaian yang digawangi oleh UNDP, terlihat sedikit resah selama pertemuan dua hari di Bali Kuta Resort pada 18-19 April baru-baru ini. Wajar saja...