Air hujan sudah terasa sejak pagi hari Minggu (29/1) itu. Namun itu tak menghalangi ibu-ibu RW 03 Kelurahan Loji, Bogor untuk datang ke acara Community Gathering di Kebun Binatang Ragunan dan komunitas pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kampung Banjarsari, Cilandak, Jakarta Selatan. Beserta suami dan anak-anak, ibu-ibu RW 03 berangkat pukul 06.30 WIB dengan bus sewaan. Jumlah mereka tak kurang dari 60 orang termasuk suami dan anak-anak. AMAN Indonesia yang menginisiasi kegiatan ini sengaja menganjurkan ibu-ibu untuk mengajak suami dan anak-anak mereka. Pasalnya, tujuan kegiatan adalah memelihara keharmonisan dalam keluarga dan warga masyarakat.
Ibu-ibu dan keluarga sampai di Ragunan pukul 07.30. Kemudian sebagian peserta diajak ke Banjarsari dan sebagian tinggal di Ragunan. Masing-masing kelompok sudah didampingi tim AMAN. Kegiatan ini sengaja didesain seperti itu agar ibu-ibu RW 03 Loji, terutama anggota Sekolah Perempuan Aktif Kreatif (SPAK), mendapat nilai tambah mengenai pengelolaan sampah. Dari proses belajar itu diharapkan mereka mendapat pengetahuan yang lebih dalam tentang pengelolaan sampah dan lebih bersemangat melakukan perubahan dengan media sampah.
Sejauh ini, ibu-ibu SPAK sudah melakukan aksi konkret pengelolaan sampah menjadi kompos. Mereka juga telah melakukan sosialisasi ke berbagai kelompok, termasuk kelurahan. Hasilnya, kelurahan menyatakan dukungan terhadap kerja ibu-ibu. Bahkan, mereka ditantang pihak kelurahan agar lebih bergiat diri memproduksi kompos.
Kegiatan studi di Banjarsari berlangsung hingga pukul 12.00 WIB. Selepas itu, peserta kelompok Banjarsari diajak kembali ke Ragunan untuk menyaksikan lomba baca surat cinta dari istri untuk suami. Lomba ini merupakan salah satu strategi tim AMAN untuk mencapai tujuan utama, memelihara keharmonisan. AMAN melihat ungkapan cinta perlu diutarakan agar suami tahu betul apa yang dirasakan istri. Dalam budaya Indonesia, mengungkapkan cinta masih belum menjadi hal yang wajar, terutama untuk orang yang sudah tua. Hal itu terbukti pada Bu Ade, salah satu pengurus SPAK Loji. Ia mengaku jarang sekali mengucapkan kata cinta, padahal usia pernikahannya sudah 23 tahun.
Lomba berlangsung dari pukul 13.00, setelah makan siang bersama, sampai pukul 14.30. Suasana yang terbangun sangat meriah. Berbagai ledekan muncul ketika peserta membacakan suratnya untuk sang suami. Bagi yang datang beserta suami diminta untuk mengajaknya mendampingi. Mereka boleh mengekspesikan apa yang dibacanya kepada sang suami. Bagi yang tidak, boleh bersama peserta lain sebagai pendamping atau membaca sendiri. Ada banyak ekspesi tertumpah dari peserta. Ada yang hampir menangis, ada yang tertawa geli, dan ada pula yang salah tingkah karena di-ledek.
Dewan juri yang beranggotakan Rizal Aris (partisipan), Salbiyah (AMAN Indonesia), dan Lydia Ranggalele (AMAN Indonesia) mengambil 3 pemenang utama dan 2 pasangan teromantis. Mereka adalah Bu Melly sebagai pemenang I, Bu Euis sebagai pemenang II, Bu Dewi Susanti sebagai pemenang III, Bu Ade-Pak Yalman sebagai peserta teromantis I dan Bu Jujuk-Pak Jaka sebagai peserta teromantis II. Pemenang I, II, III mendapat boneka, dan peserta teromantis mendapat bingkisan biskuit.
Acara ini berlangsung sederhana. Lomba yang diselenggarakan tidak dilakukan di atas panggung atau dengan mic. Jurinya pun bukan para pujangga. Namun, AMAN meyakini kegiatan-kegiatan seperti itu, sekali pun sederhana dan disertai rintik-rintik hujan, mampu menjaga keharmonisan pasangan dan antarwarga. Ikut sertanya perwakilan kelurahan dan Ketua RT 03 akan menjadi bibit kesetaraan antara warga dengan pemerintah lokal. Jika bibit ini sudah terbangun, maka sinergi untuk pembangunan yang lebih makimal akan semakin dekat tercapai. Semoga. (An)






Dewan HAM PBB akan melakukan Tinjauan Periodik Universal (UPR) kepada seluruh negara anggota PBB di Jenewa Swiss, pada 23 Mei nanti. Dalam UPR yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali itu, beberapa aktivis HAM meminta PBB untuk memmperhatikan secara serius maraknya kasus pelanggaran HAM, khususnya terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini...
Usaha pemerintah untuk mengembangkan pangan lokal melalui Gerakan Sehari Tanpa Nasi memang layak diapresiasi. Namun demikian, menurut praktisi pertanian, poin penting dan paling utama seiring ajakan itu adalah aksi konkrit pemerintah dalam mendorong pengembangan pangan lokal hingga ketersediaannya terjaga dengan harga terjangkau.





Sampai pertemuan ke 25, kami tetap tidak tahu kapan draft Rencana Aksi Nasional Perlindungan Perencanaan Pemberdayaan dan Partisipasi Perempuan di Daerah Konfik (RAN P4DK) akan disahkan. Peserta dialog N-Peace, sebuah jaringan perempuan perdamaian yang digawangi oleh UNDP, terlihat sedikit resah selama pertemuan dua hari di Bali Kuta Resort pada 18-19 April baru-baru ini. Wajar saja...