Rantai Dendam Kami Telah Putus: Kisah-kisah Perempuan Poso

E-mail Cetak PDF

Hampir seminggu saya dan ibu-ibu Sekolah Perempuan (SP) Jakarta dan Bogor berada di Tentena. Kami tahu, Tentena punya sejarah kelabu. Beberapa tahun yang lalu, konflik bernuasa agama meledak di sini. Banyak korban berjatuhan. Tapi kami mencoba berdamai dengan konflik yang hanya menyisahkan kesedihan itu. Apa yang ada dalam pikiran kami adalah bagaimana membingkai kembali perdamaian dalam sebuah kebersamaan yang indah.

Selain menikmati alam yang asri, kami juga mempelajari banyak hal. Belajar untuk lebih bersemangat dalam menghadapi hidup, terutama belajar tentang memaafkan diri sendiri dan orang lain. Dalam tulisan ini, saya ingin menuangkan beberapa cerita dari perempuan Poso  yang menginspirasi dan memotivasi kami untuk terus berjuang dalam mendorong perempuan sebagai agen perdamaian.

“Meskipun saat membicarakan konflik tahun 2001 itu, saya masih terasa sedih karena kehilangan orang tua yang sangat kami cintai. Saya tahu kelompok mana yang melakukan kekerasan pada ayah saya, bahkan salah satunya masih saudara. Tapi saat ini saya sudah tidak menyimpan dendam lagi, Mbak.” ujar Mama Monic, salah satu anggota Sekolah Perempuan Aman Indonesia yang beragama Nasrani.

Perempuan yang dulunya berprofesi sebagai pegawai negeri itu juga menceritakan, ketika terjadi konflik dia da keluarganya harus terpaksa menjadi pengungsi ke Pamona. "Apapun kondisinya, saya harus tetap mempertahankan hidup keluarga saya. Untuk itu saya berjualan nasi kuning dan membuat keripik untuk dijual. Tidak mudah untuk memulai menata hidup baru. Kami hilangkan semua rasa malu, ” ungkapnya.

"Saya mencoba berpikir bahwa yang menjadi korban bukan hanya saya, masalah ini dihadapi oleh banyak orang. Saya tidak ingin mewarisi dendam, oleh karena itu ketika anak saya bertanya, saya tidak perlu menceritakan semuanya,” katanya.

Tanti, perempuan anggota Sekolah Perempuan juga menceritakan, "Sebelum konflik saya sudah berencana menikah, tapi konflik memporak-porandakan impian kami dan membuat kami harus menikah di pengungsian. Untuk mendapatkan penghasilan, kami bekerja di sawah, menanam padi seperti penduduk lokal. Sebelumnya saya tengkulak palawija. Saya membeli hasil panen para petani kemudian menjualnya kembali. Susah sekali bekerja di sawah. Selama setahun kami beradaptasi. Tangan kami luka-luka.”

“Ketika kami kembali ke Malei yang sebagian besar Muslim, sempat ada rasa takut. Tapi setelah bertemu dengan teman-teman di sana, kami berpelukan menangis menumpahkan rasa rindu,” ungkapnya.

“Kemarin ada acara ulang tahun anak saya. Saya mengundang teman-teman Muslim, namun sebelumnya ada acara ibadah dulu. Sebenarnya saya ragu apa teman-teman Muslim mau datang. Saya sudah siapkan makanan dan yang memasak juga teman-teman Muslim. Ternyata banyak yang datang, bahkan sebelum ibadah dimulai mereka sudah datang. Saya minta maaf karena harus melakukan ibadah dulu. Ternyata teman-teman mau menunggu dan tak masalah. Saya senang sekali,” pungkas Tanti.

Kisah-kisah itu disampaikan oleh teman-teman dari Malei yang ketika terjadi konflik di tahun 2001 harus mengungsi. Tentu saja masih banyak kisah sedih saat perempuan-perempuan Poso memulai hidup baru, bertahan dalam kondisi kekurangan, berdamai dengan dirinya sendiri untuk bisa menerima kehilangan orang-orang tercinta, kehilangan harta benda, ketakutan, dan sebagainya. Namun, saat ini sudah hampir tak terlihat kesedihan di wajah mereka. Kenangan 2001 tetap ada tak terlupa, namun rantai dendam telah terputus.

Perempuan secara naluri adalah pemelihara kehidupan, karena perempuan punya rahim dimana dari rahimnya lahir sebuah kehidupan. Saat laki-laki berpikir bagaimana strategi mengalahkan musuh, perempuan mencari jalan untuk tetap mencari makanan agar anak-anak mereka tetap hidup. (Mega)

Sumber: http://amanindonesia.org/sekolah-perempuan/branch/sekolah-perempuan-malei.html

Terakhir Diupdate ( Senin, 20 Februari 2012 11:35 )  

Add comment


PBB Harus Perhatikan Persoalan HAM di Indonesia

pbbDewan HAM PBB akan melakukan Tinjauan Periodik Universal (UPR) kepada seluruh negara anggota PBB di Jenewa Swiss, pada 23 Mei nanti. Dalam UPR yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali itu, beberapa aktivis HAM meminta PBB untuk memmperhatikan secara serius maraknya kasus pelanggaran HAM, khususnya terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini...

no-rice-sehari-tanpa-nasiUsaha pemerintah untuk mengembangkan pangan lokal melalui Gerakan Sehari Tanpa Nasi memang layak diapresiasi. Namun demikian, menurut praktisi pertanian, poin penting dan paling utama seiring ajakan itu adalah aksi konkrit pemerintah dalam mendorong pengembangan pangan lokal hingga ketersediaannya terjaga dengan harga terjangkau.

Video Komunitas

You need Flash player 6+ and JavaScript enabled to view this video.
Title: TELUSUR TVOne jumat 18 Nopember 2011 (0:38:01)


mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter

We have: 113 guests online
Your IP: 38.107.179.242
 , 
Today: Mei 19, 2012

FacebookTwitterGoogleYoutube

Opini

RAN P4DK, Mendamba Sinergi Efektif

foto mbak rubySampai pertemuan ke 25, kami tetap tidak tahu kapan draft Rencana Aksi Nasional Perlindungan Perencanaan Pemberdayaan dan Partisipasi Perempuan di Daerah Konfik (RAN P4DK) akan disahkan. Peserta dialog N-Peace, sebuah jaringan perempuan perdamaian yang digawangi oleh UNDP, terlihat sedikit resah selama pertemuan dua hari di Bali Kuta Resort pada 18-19 April baru-baru ini. Wajar saja...

Fokus

Menjadikan Kesetaraan Gender Sebagai Gerakan Bersama

Perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial-masyarakat tentu saja tidak menjadi suatu masalah. Namun kenyataanya, diskriminasi terhadap perempuan akibat perbedaan gender itu terus terjadi. Ironisnya lagi, pada level gerakan sosial, kesetaraan gender masih dianggap hanya menjadi urusan perempuan. Isu kesetaraan gender...

Informasi

Jajak Pendapat

Apakah Muatan RUU Kesetaraan Gender Sudah Menjamin Pemenuhan Hak Perempuan?

Share/Save/Bookmark